Selamat Datang Di Kota Pacitan

MY BLOGS

Kamis, 26 Februari 2009

upacara ceprotan

ceprotan
Upacara ceprotan sangat terkenal di Kabupaten pacitan dan mungkin tidak ada di daerah lain, ceprotan juga menjadikan ciri khas upacara tradisional di kabupaten pacitan, berikut adalah definisinya :
Ceprotan merupakan upacara tradisional, atau lebih dikenal dengan bersih desa yang dilakukan masyarakat Kabupaten pacitan adalah warisan dari seorang primus interpares bernama Ki Godeg. Dahulu kala dilakukannya upacara ceprotan adalah ketika ki Godeg membuka hutan untuk didirikan padepokan, beliau merenung di bawah pohon kelapa. Selang beberapa waktu, sebuah kelapa muda (Cengkir yang dalam bahasa salepa disebut kencenging pikir) jatuh tepat di atas kepalanya, sehingga keluar cipratan dari kelapa yang tepat mengenai kepala Ki Godeg. Kata Ceprotan sendiri berasal dari Cipratan. Upacara ini dilakukan setiap tahun di bulan Dulkangidah, hari Senin Kliwon atau Minggu Kliwon. Sebenarnya ceprotan merupakan interpretasi Dewi Sekartaji bagian lain dari cerita babad dalam wayang Beber ("Wayang sing kudu di Beber" atau wayang yang harus dibeberkan kebenarannya) serta Reog Ponorogo. Dalam Ceprotan menceritakan tentang Dewi Sekartaji dan Ki Godeg yang merupakan pendiri desa Sekar. Rangkaian seremoni sakral Ceprotan ini dimulai dari pengumpulan ayam dari beberapa warga. Upacara dipimpin oleh kepala desa dan melibatkan kepala dusun. Puncak acara Ceprotan berlangsung pada sore hari dimana matahari mulai terbenam, diawali dengan tarian surup "Terbenamnya Matahari" kemudian juru kunci membacakan doa, serta lurah desa merepresentasikan diri sebagai perwujudan Ki Godeg, sedangkan Istrinya sebagai Dewi Sekartaji. Kemudian dua orang warga berusaha membawa lari, secara bergantian "panggang" atau "ingkung" atau ayam yang sudah dimasak dari dalam wilayah yang sudah diberikan sesajen sebelumya dan setelah keluar dari wilayah tersebut dilempari kelapa muda yang sudah dikupas kulitnya oleh pemuda setempat. Pelemparan dilakukan dari sisi kanan dan kiri. Sebelum upacara ceprotan juga ditampilkan seni Reog Ponorogo dan Tari Jatilan. Ceprotan sendiri masih memiliki nilai kesakralan yang tinggi, dan disinyalir sebagai upacara untuk mendekatkan diri kepada yang kuasa dengan pengharapan didatangkannya hujan serta hasil pertanian yang melimpah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar